JAKARTA – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) berkolaborasi dengan Meta menyelenggarakan kegiatan Smart Digital Parenting di auditorium Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Sabtu (13/12/2025). Kegiatan yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ini diselenggarakan semakin menguatkan perhatian dan kepedulian Nasyiatul Aisyiyah terhadap dampak penggunaan media sosial yang sangat memprihatinkan. Ketua Bidang Kerjasama dan Kehumasan PPNA, Sumarni Susilawati menilai dampak penggunaan media sosial banyak dirasakan oleh perempuan dan anak, misalnya kasus kekerasan berbasis gender online.
Sebagai organisasi perempuan muda, Nasyiah memfokuskan perhatian pada pembangunan keluarga, di antaranya melalui 10 pilar Keluarga Muda Tangguh dan program Sekolah Parenting berbasis Family Learning Center (FLC) yang di dalamnya memuat unsur literasi digital dan pengasuhan. “Jauh sebelum era media sosial semarak saat ini, Nasyiatul Aisyiah melakukan edukasi memilih tontonan televisi yang sehat. Saat ini, perempuan melalui media digital perlu mengimbangi konten-konten negatif dengan produksi konten edukatif dan bermanfaat,” ujar Sumarni dalam sambutannya.
Sejalan dengan itu, Meta memiliki komitmen kuat untuk menjamin keamanan dan keselamatan remaja di dalam platform Meta. Pada kesempatan ini, Kepala Kebijakan Publik Meta untuk Indonesia, Berni Moestafa mengatakan keselamatan di dunia online merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, Meta memiliki beberapa kebijakan dan fitur untuk melindungi pengguna mulai dari komunitas standar yang menentukan konten mana saja yang tidak diperbolehkan hingga fitur seperti merchant landing yang membantu mendeteksi konten yang melanggar. “Nasyiatul Aisyiyah memiliki peranan penting dalam mendorong isu keselamatan remaja melalui berbagai aspek perlindungan,” ungkap Berni.
Dukungan Ruang Aman Digital untuk Anak
Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia Meutya Hafid melalui video sambutan memberikan apresiasi terhadap Nasyiatul Aisyiyah dan Meta atas gelaran talkshow Smart Digital Parenting. Meutya juga mengapresiasi Nasyiatul Aisyah yang terus menguatkan peran perempuan muda dalam pengasuhan dan juga keselamatan anak-anak. Kiprah Nasyiah ini menunjukkan bahwa dukungan masyarakat, khususnya perempuan sangat berperan dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak.
“Hari ini menjaga anak sebagai amanah tidak hanya hadir di rumah dan sekolah, tapi juga di ranah digital yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari,” ujar Meutya dalam sambutannya secara daring.
Pemerintah telah menerbitkan PP Tunas ‘Tunggu Anak Siap’ untuk menunda akses anak ke media sosial dan juga ke berbagai platform digital. Aturan ini mewajibkan platform untuk menerapkan perlindungan sesuai usia anak, menilai resiko, dan juga menjaga keselamatan anak. “Kebijakan ini adalah langkah maju untuk menghadirkan ruang digital yang lebih aman dan akan semakin bermakna ketika didukung oleh pendampingan orang tua, kekuatan komunitas seperti NA, serta nilai-nilai yang membentuk karakter generasi kita,” imbuhnya.
Sementara itu, hadir di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Direktur Penyidikan Digital Komdigi, Irawati Tjipto Priyanti memaparkan penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 80%. Peningkatan juga terjadi di daerah rural hingga 76%. Sebanyak 25% generasi Z tercatat memanfaatkan internet dan generasi milenial yang pemanfaatannya banyak untuk media sosial. Namun, di balik kemanfaatan yang meluas itu, ada sisi negatif yang perlu mendapat penanganan.
Smart Digital Parenting dikemas menjadi dua sesi kegiatan, yakni talkshow di sesi pertama dan workshop di sesi kedua. Sesi talkshow berlangsung antusias karena empat narasumber memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Mediodecci Lustarini menyoroti perlindungan anak di ruang digital. Ia menekankan bahwa internet diciptakan bukan untuk anak. Untuk itu, dengan segala risikonya, orang tua perlu literasi diri agar dapat memahami perkembangan zaman dan meminimalisir risiko yang terjadi pada anak.
Andy Ardian, National Coordinator ECPAT Indonesia menjabarkan bentuk eksploitasi anak di ranah daring, serta kecanggihan teknologi disalahgunakan oleh pelaku kekerasan. Mengikuti perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu cepat, Muhammadiyah menerbitkan panduan keagamaan (Fikih Informasi) mengenai penggunaan internet, termasuk media sosial, yang turut dipengaruhi perkembangan kontemporer, termasuk kebijakan pemerintah dan tren teknologi. Topik ini dipaparkan oleh Risni Julaeni Yuhan, Ketua Bidang Pendidikan dan Penelitian PPNA. Terakhir, sebagai platform yang paling dominan di Indonesia, Manajer Kebijakan Publik Indonesia Meta, Rendy Novalianto memberi ruang aman melalui produk terbaru, yakni Akun Remaja Meta yang melakukan pendekatan multi lapisan terhadap anak muda.
Sesi lokakarya kartu percakapan difasilitasi oleh Dessy Sukendar dari Meta dan lokakarya peningkatan kesadaran bersosial media dan keamanan dari ancaman kejahatan dunia siber difasilitasi oleh Dede Dwi Kurniasih, Ketua Departemen Advokasi Sosial PPNA. Sesi ini berlangsung seru karena melibatkan partisipasi semua peserta melalui proses fasilitasi di kelompok kecil.
Smart Digital Parenting diikuti oleh peserta dari berbagai unsur, seperti kader Nasyiatul Aisyiyah se-Jabodetabek, lintas kementerian, organisasi perempuan keagamaan, sekolah, dan organisasi masyarakat sipil. Banyak peserta yang mengaku baru mengetahui lebih detail soal fitur perlindungan bawaan Meta meskipun sudah menggunakannya lebih dari lima tahun. “Jadi ini pengetahuan yang baru juga untuk kami, lebih sadar dalam menggunakan media sosial, dan tentunya sangat bagus untuk anak dan orang tua,” ungkap Eris, salah satu peserta dari Tangerang Selatan. (Isna)