Kajian rutin Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) yang disampaikan oleh KH. Ahmad Sodiq setiap Sabtu pertama setiap bulan mengajak jamaah untuk merenungkan kondisi batin dan memperbaiki kualitas diri. Materi yang disampaikan tidak hanya relevan dalam perspektif ajaran Islam, tetapi juga membuka ruang refleksi yang lebih luas ketika dikaitkan dengan ilmu psikologi dan kedokteran.
Saya meyakini bahwa berbagai perilaku, seperti merasa diri paling benar, haus akan pujian, sulit menerima saran dan kritik, gemar merendahkan orang lain, serta kurang memiliki empati, merupakan bentuk-bentuk penyakit hati sebagaimana dijelaskan dalam ajaran Islam.
Sejak awal, Islam telah mengingatkan umatnya tentang bahaya sifat kibr (sombong), ujub (membanggakan diri), dan riya’ (mencari pujian manusia). Sifat-sifat tersebut tidak hanya merusak kebersihan hati, tetapi juga merenggangkan hubungan antarmanusia dan, yang lebih penting, dapat menjauhkan seseorang dari rahmat dan rida Allah Swt.
Kajian tersebut mendorong saya untuk mempelajari perilaku-perilaku tersebut dari sudut pandang psikologi dan kedokteran. Dari berbagai literatur yang saya baca, saya menemukan bahwa sebagian karakteristik tersebut juga dikenal dalam dunia medis sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik.
Gangguan kesehatan mental ini ditandai oleh rasa penting diri yang berlebihan, kebutuhan yang sangat besar akan pujian dan pengakuan, kecenderungan bersikap manipulatif, serta dorongan untuk selalu menjadi pusat perhatian.
Temuan tersebut memberikan pemahaman baru bagi saya. Tidak semua penyakit hati dapat dikategorikan sebagai gangguan kepribadian, demikian pula tidak semua gangguan kepribadian dapat dipahami semata-mata sebagai penyakit hati.
Keduanya berada dalam ranah keilmuan yang berbeda. Penyakit hati merupakan konsep dalam ajaran agama yang berkaitan dengan kondisi spiritual dan moral seseorang, sedangkan gangguan kepribadian merupakan diagnosis dalam ilmu psikologi dan kedokteran yang didasarkan pada kajian ilmiah. Meskipun demikian, keduanya dapat memperlihatkan gejala atau perilaku yang tampak serupa dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pandangan saya, ajaran Islam, psikologi, dan kedokteran pada dasarnya tidak saling bertentangan dalam memandang perilaku tersebut. Ketiganya justru dapat saling melengkapi sesuai dengan perspektif dan ruang lingkup masing-masing.
Islam mengajarkan pentingnya tazkiyatun nafs sebagai ikhtiar membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. Sementara itu, psikologi dan kedokteran membantu menjelaskan faktor-faktor psikologis maupun biologis yang mungkin melatarbelakangi munculnya suatu perilaku.
Dalam perspektif Islam, pembinaan spiritual dilakukan dengan memperkuat hubungan dengan Allah Swt. sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Hal itu diwujudkan melalui muhasabah (introspeksi diri), memperbanyak zikir, terutama istigfar, membaca Al-Qur’an, serta membiasakan sikap tawadhu’ agar hati terhindar dari kesombongan dan kecintaan yang berlebihan terhadap diri sendiri.
Di sisi lain, psikologi dan kedokteran memandang bahwa apabila perilaku tersebut telah memenuhi kriteria klinis sebagai gangguan kepribadian, maka diperlukan penanganan profesional. Pendampingan oleh psikolog melalui psikoterapi, dan dalam kondisi tertentu disertai penanganan medis oleh psikiater, menjadi bagian dari upaya memulihkan kesehatan mental.
Pendekatan spiritual dan pendekatan ilmiah tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam membantu seseorang membangun kehidupan yang lebih sehat, baik secara spiritual maupun psikologis.
Pada akhirnya, pembinaan spiritual yang dipadukan dengan pendekatan psikologi dan kedokteran dapat menjadi ikhtiar yang saling melengkapi dalam menjaga kesehatan spiritual dan mental. Hati yang bersih akan mendekatkan seseorang kepada Allah Swt., sedangkan mental yang sehat akan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama. Penyakit hati memang tidak tampak, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, menjaga kebersihan hati merupakan ikhtiar penting untuk mewujudkan kehidupan yang damai, penuh empati, dan penuh keberkahan.
Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan rahmat dan rida-Nya kepada kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Fajri Suraga
Tuanku Nan Basa
Bendahara PRM LEGOSO
