Sebanyak dua emas, tiga perak, dan satu perunggu berhasil dibawa pulang siswa SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang dari berbagai cabang lomba. Dua emas diraih Fatih Ano Jaga dari cabang lomba News Reading dan Fadhil Rafi Nakhlah dari cabang lomba Fisika.
Tiga perak diraih oleh Fayza Novellia cabang lomba Kimia, Patih Keito cabang lomba IMU English, serta tim Robotika yang beranggotakan Muhammad Gavin dan Nadhifa Aqilah Nur Ashila. Sementara perunggu diraih oleh Abdullah Hanif Aulia dari cabang lomba Tilawatil Qur’an.
Capaian ini adalah peningakatan dari tahun sebelumnya pada ajang yang sama. Kontingen SMAM 25 Muhammadiyah Pamulang berhasil meningkatkan jumlah medali menjadi total enam medali dari tahun sebelumnya yaitu empat medali.
Ajang ini merupakan agenda tahunan yang mempertemukan siswa dan guru Muhammadiyah dari seluruh Indonesia.
“Saya melihat kemampuan peserta lain sangat baik. Saat nama saya diumumkan sebagai peraih medali emas, rasanya masih tidak percaya,” tutur Patih Ano Jaga.
Ia datang ke Makassar tanpa ekspektasi berlebih, hanya membawa hasil latihan yang ditempuh selama berbulan-bulan dan keberanian percaya diri untuk tampil.
Fadhil pun menyimpan keraguan serupa. Hasil semifinal sempat membuatnya cemas. Ketika sampai di babak final yang menyajikan tujuh soal, ia mengaku pasrah hanya benar-benar yakin pada dua soal saja.
Ia menyatakan, “Saya tidak terpikir untuk dapat emas. Seandainya pun saya paling dapat perunggu, itu pun sudah luar biasa.” Namun takdir berkata lain. Jawaban yang ia kerjakan dengan sisa keyakinan itu justru mengantarkannya pada podium tertinggi.
Di belakang para siswa, ada kerja sunyi yang jarang terlihat. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum sekaligus Ketua Kontingen, Zaky Anshari, M.M., menyebut persiapan untuk mengikuti lomba di OlympicAD dilakukan selama tiga bulan. Sekolah menggelar seleksi internal, menyusun jadwal pendampingan intensif, hingga memastikan pelatih hadir secara konsisten mendampingi peserta.
Pendampingan tak berhenti ketika lomba dimulai. Di lokasi kompetisi maupun secara daring, guru-guru tetap memantau perkembangan siswa. “Dukungan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun mental dan kesiapan mereka,” kata Zaky.
Hasilnya tampak nyata yaitu peningkatan capaian jumlah medali. Bagi pihak sekolah, itu bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator tumbuhnya kepercayaan diri siswa dalam berkompetisi di tingkat nasional.
Kepala sekolah, Dr. Hartono, M.A., menyebut capaian tersebut sebagai buah kerja kolektif. Sebuah kebanggaan bagi SMA 25 Setiabudi Pamulang. “Medali yang diraih telah membuktikan bahwa kita mampu untuk berkompetisi. Teruslah berprestasi, buktikan bahwa kita bisa menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Enam keping medali itu menjadi pijakan SMAM 25 Setiabudi Pamulang untuk melangkah lebih jauh yaitu memperkuat posisi dalam kompetisi akademik nasional, sekaligus menumbuhkan keberanian generasi berikutnya untuk mencoba.






