Penulis: Salman A Ridwan
Editor: Dinar Meidiana
Alih-alih menggelar razia dan hukuman, SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang (SMAM DUMA) menghadirkan barbershop ke sekolah, Jumat (30/01/2026).
Melalui kegiatan cukur rambut bersama barberman lokal, sekolah ini menanamkan disiplin positif dengan cara yang lebih manusiawi yaitu membangun kesadaran, bukan rasa takut.
Saat itu sekolah menjadi tempat belajar mengajar sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu tentang kerapian, tanggung jawab, dan kesadaran diri dengan cara berbeda.

Sekolah menghadirkan suasana yang akrab dan tertib, tidak ada teriakan guru. Puluhan murid antre dengan wajah santai. Sebagian bercermin, sebagian tersenyum melihat potongan rambut baru mereka.
Kegiatan cukur rambut merupakan hasil kolaborasi antara SMAM DUMA dengan sejumlah barberman lokal di wilayah Pamulang. Para pemangkas rambut profesional dihadirkan langsung ke sekolah, memberi layanan cukur yang aman dan tertib bagi para siswa.
Bagi pihak sekolah, rambut rapi bukan sebatas soal penampilan. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAM DUMA Arif Budianto menegaskan, kerapian adalah bagian dari pembentukan karakter.
“Program ini dalam rangka menjalankan disiplin positif. Sekolah tidak hanya menuntut, tapi juga memfasilitasi. Kami menghadirkan pemangkas rambut profesional agar anak-anak belajar bertanggung jawab dengan cara yang lebih manusiawi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala sekolah SMAM DUMA, Dr. Hartono, M.A, menyatakan disiplin positif sejalan dengan visi pendidikan sekolah yang menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran, bukan objek hukuman.
Menurutnya, “penegakan disiplin positif adalah ikhtiar penyadaran murid agar taat aturan tanpa paksaan dan tanpa pengawasan. Murid diharapkan punya inisiatif untuk membiasakan akhlakul karimah di sekolah maupun di rumah”.
Bagi para barberman, kehadiran mereka di sekolah bukan sekadar urusan jasa, melainkan bentuk kontribusi sosial. Hakim, salah satu barberman yang terlibat, mengaku senang bisa ambil bagian.
“Kami merasa ini kegiatan yang positif. Selain membantu murid tampil rapi, kami ingin menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Anak-anak pun terlihat nyaman,” katanya.
Respons murid pun menunjukkan hal serupa. Banyak dari mereka mengaku kegiatan ini terasa lebih adil dan tanpa tekanan. Tidak ada potongan rambut asal-asalan, tidak ada rasa dipermalukan di depan teman.
Salah satunya Taqorub, murid kelas XI Soshum, “Menurut saya kegiatan ini lebih oke dari pada asal gunting yang malah bikin pitak,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari kursi cukur sederhana di sudut sekolah, SMAM DUMA memperlihatkan wajah disiplin yang tidak selalu dibangun dari rasa takut. Disiplin bisa tumbuh dari kepercayaan, fasilitas yang adil, dan pengalaman menyentuh kehidupan nyata siswa.
Ketika sekolah memilih mendidik alih-alih menghukum, di situlah disiplin berubah menjadi kesadaran. Pendidikan, pada akhirnya, dapat menemukan maknanya—bukan sebagai alat kontrol yang menakutkan, melainkan sebagai proses menumbuhkan kesadaran para murid.






